Sebenarnya tidak sepenuhnya benar untuk menyalahkan siapa-siapa. Karena program acara itu dibuat Produser dan rumah-rumah produksi berangkat dari riset pasar; berdasar hukum pasar. Barang apa yang laku dipasaran, itulah yang dijual; tayangan apa yang DOMINAN digemari rakyat Indonesia dan ratingnya tinggi, itulah yang diproduksi. Dan tontonan yang saat ini memiliki rating tinggi di program televisi Indonesia adalah sektor hiburan (entertainment).
Tapi kemudian, set ini menjadi semacam ‘lingkaran setan’. Masyarakat penonton butuh tayangan cerdas untuk merubah pola pikir dan memajukan wawasan. Namun di satu sisi, masyarakat sendiri ‘tidak menuntut’ tontonan seperti (yang dibutuhkan) itu. Kenapa? Karena penonton kita adalah penonton irasional. Penonton yang mengedepankan selera
Jadi siapa yang salah kalau situasinya seperti itu?












































0 komentar:
Posting Komentar